Tomblos Bukan Capresku

May 23, 2009 · Posted in Celoteh, Nasionalisme, Renungan · 41 Comments 

Setelah lama menghilang di tinggal koncreng, akhirnya tomblos muncul lagi dengan berita menghebohkan, kini ia seperti hidup lagi, lepas dari derita cerita cinta yang mengharu biru, tomblos semakin melenggang menjadi pria matang dan semakin dewasa. Gemblengan pengalaman hidup yang panjang membawa tomblos menjadi pria matang, sedikit berwibawa, walau terkadang cengeng.

Tak Disangka dan tak di nyana, Tomblos mencalonkan diri sebagai presiden di negri antah brantah. Negri dimana masyarakatnya masih terbuai dengan cerita drama, alur cerita yang menjual mimpi dan khayalan, mirip film India yang dulu sempat booming di negri antah brantah. Harapan dan mimpi yang di jual masih klise, Pengangguran berkurang, hidup mapan, sekolah gratis, dan sembako murah. Mungkin bagi Negara lain itu bukan lagi janji, tapi realita. Namun inilah negri antah brantah. Jangankan hidup yang mapan, hidup mengarah ke kehidupan yang mapan saja masih menjadi jualan politik. Atau janji penguasa

Tomblos dengan dukungan dana dari kolega yang tak terhingga semakin mantap menjadi calon presiden, modal pengalaman sebagai seorang yang di dzholimi membuat dia semakin di untungkan. Maklum negri ini negri yang beda, negri antah brantah adalah negri dimana masyarakatnya lebih memilih sosok yang pernah di dzholimi atau dianiaya ketimbang sosok capres cerdas dan pintar, sehingga banyak yang yakin tomblos pasti terpilih. Sudah hampir terpilih, karena negri ini sekali lagi negri yang berbeda. Rakyatnya memilih karena iba dan simpati. Visi misi bukan lagi menjadi hal utama dalam memilih capres. Inilah bedanya negri ini dengan negri Obama. Padahal tomblos berulang kali berorasi mengatakan bahwa negri paman sam masih merupakan corong bagi Negara lain untuk bias maju. Mungkin rakyat antah berantah sudah kebal terhadap visi misi, karena selama ini visi dan misi cuman tulisan yang tak pernah terbukti

Tomblos bagaikan hidup dalam negri pencarian bakat seperti AFI dan lain-lain. Untuk menjadi juara tak perlu pinter nyanyi dan bersuara merdu, asalkan hafal lirik. Cukup bermodal kisah hidup yang mengharu biru bisa menjadi juara. Sebagai mantan orang yang di dzholimi. Pembawaan nya sabar dan suka mengadu kepada rakyatnya. Menjadikan tomblos menjadi dekat dengan rakyatnya. Dan dia yakin bakal terpilih sebagai presiden. Dia tahu benar bagaimana karakter rakyatnya yang melankolis dan tak memiliki jiwa petarung.

Syukurlah Indonesia tak seperti negri si tomblos. Tak pernah memiliki presiden atau calon presiden yang cengeng, yang suka mengadu ke rakyat tentang keburukan rival politik, presiden yang mudah tersinggung walaupun terlihat sabar dan berwibawa seperti Tomblos, Semoga tidak akan pernah

Capres Iklan, Siapa lagi yang Mundur???

November 19, 2008 · Posted in Celoteh, Nasionalisme, Renungan · 36 Comments 

Minimnya elektibilitas masyarakat membuat Rizal Mallarangeng memilih mundur dalam bursa calon presiden 2009. Mulai besok Rizal akan menghentikan segala kegiatannya yang berhubungan dengan kampanye.

“Saya harus realistis. Secara popularitas meningkat tetapi elektibilitas tidak,” ujar Rizal Mallarangeng seusai peluncuran buku berjudul “Dari Langit” di Goethehaus, Jl Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (19/11/2008). (detik.com )

Rizal Malarangeng hanya satu dari beberapa calon presiden yang getol berkampanye lewat iklan. sehingga capres yang nongol di tv itu pun sering di sebut sebagai “capres iklan” , Siapa lagi kah capres iklan TV yang bakal mundur? mengingat biaya iklan mencapai milyaran Rupiah. belum cukup kuat untuk menjadi modal tunggal untuk melangkah menuju kursi presiden.

Gencarnya tokoh politik yang mengiklankan diri sebagai tokoh yang merasa pantas menjadi presiden membuat saya tertawa dalam hati Inilah politik indonesia Politik yang masih menganggap kepopuleran figur menjadi modal kuat untuk maju menjadi capres, bukan visi atau pun misi nya, bahkan banyak bermunculan trend baru dengan slogan ” saat nya pemimpin muda tampil “, menganggap yang muda lebih bisa memberikan pembaruan, mungkin mengekor keberhasilan Barack obama yang sukses tampil dalam usia muda.

Apa para capres iklan itu tak tau, atau mungkin pura-pura gak tau, kalau jauh sebelum obama tampil di panggung politik, banyak memberikan sumbangan pemikiran ataupun kegiatan yang nyata dan mendapat simpati rakyat amerika, bukan sekedar nongol di tv lewat puisi-puisi ataupun kata-kata yang menggelora..

Tapi semua usaha memang wajar untuk di berikan acungan, paling tidak beliau-beliau itu telah berusaha menjadi lebih di kenal. Namun akan lebih di acungi jempol jika usaha mereka tak hanya di iklan, rakyat sudah bosen dengan puisi penuh angan-angan dan harapan, sekarang bukan jamannya lagi film india yang menjual mimpi. karena akan lebih menyentuh di hati rakyat, bila kampanye mereka di di lakukan dengan penyaluran sumbangan ataupun kegiatan amal lain. Dana iklan di tv tak main-main jumlahnya, kisaran milyaran rupiah, bayangkan jika 4 atau 5 sampe 7 tokoh yang gemar beriklan menyumbangkan dana mereka buat pengentasan kemiskinan.

Hanya tulisan penghantar tidur… ngantuk dan capek.. sudah sampe di bali…