“Bro.. Mungkin ini kali terakhir aku memberi khabar buat kamu, Grasi yang aku ajuin di tolak presiden. Keputusan pengadilan yang memvonis aku mati tinggal menunggu hari H untuk selanjutnya akan dilaksanakan eksekusi hukumanku, aku gak berharap kamu membantu meringankan hukumanku. Karena aku tau kamu bukan presiden atau Ayin sang makelar suap itu, yang bisa aku harepin dari kamu cuman doa, doakan aku selamat di alam sana”

Salam kangen

Winda

Setelah membaca surat itu saya hanya bisa bengong dan sedih. Membayangkan perasaan sahabat saya tadi yang tau kapan dia akan mati. Suatu kondisi yang pasti akan membuat saya gila jika saya mengalaminya. Hampir semua sahabat dari winda mendapatkan kiriman surat yang di beri judul surat terakhir itu.. Termasuk saya sendiri yang lama menjadi sahabatnya. Dia bukan koruptor BLBI apalagi penjahat HPH yang merusak hutan dan membuat miskin rakyat Indonesia. Dia adalah mantan seorang kurir narkoba. Sebuah profesi yang terpaksa dia lakukan demi sebuah kebahagiaan ekonomi.

Lama merenung saya pun memutuskan untuk menjenguk nya di LP khusus narkoba. Dan dalam perjalanan saya berfikir tangis kesedihan akan pecah nanti ketika bertemu dengannya. Tapi sungguh di luar dugaan, setelah di ijinkan petugas untuk bertemu, tak ada raut susah bahkan sedih di mata winda, dia masih terlihat sangat cantik, bahkan tak ada tanda stress dari seorang wanita yang tau kapan dia akan mati.

“ Loh kok malah kamu yang nangis? Bukannya aku yang di vonis mati ” sambil menghusap air mata yang tanpa saya sadari menetes saya hanya bisa memeluk dia erat, seorang sahabat yang dulu begitu banyak membantu saya. Dan sekarang dia harus pergi karena system hukum Indonesia yang menghukum mati setiap pengedar narkoba kelas satu. Kesedihan saya bertambah melihat ketabahan dan kekuatan jiwa seorang wanita muda. Saya terus memeluknya erat, seolah ingin mengatakan, “jangan pergi, jangan pergi…” dan akhirnya winda pun larut dalam kesedihanku, tak bisa menutupi kesedihannya , dia ikut meneteskan air mata, dan membalas memeluk erat tubuh saya, tak ada terdengar suara tangis, hanya air mata dan nafas yang agak tertahan.. dia tau.. Ini kali terakhir dia bisa memeluk tubuhku yang bau, dan jarang mandi. dan aku pun sadar, kelak tak akan lagi ada teguran dari seorang sahabat yang selalu mengingatkan aku untuk rajin mandi

Setelah lama menangis dengan kebisuan, kita mulai tenang. Dan winda wanita tegar itu memulai pembicaraan.. “Ikhlasin aja, doain aku bisa menghadapi masalah ini. Semua sudah di takdirkan. Dan insyaallah ada jalan. Inget rajin mandi ya.., dan jangan lupa, rokok di kurangi. Salam buat teman-teman yang lain. Aku rindu mereka.”

Waktu yang terbatas membuat kita tak bisa lama curhat, petugas penjara memberikan kode bahwa waktu jenguk telah habis. Dan sebelum masuk lagi ke bilik penjara, saya kembali memeluknya, rasanya saya ingin menemani dia disana. Untuk hari-hari terakhirnya. Saya pun tau, dia berharap bisa kumpul lagi dengan saya dan teman-teman di luar penjara.

Saya mengenal winda sebagai wanita periang, suka membantu teman yang kesusahan dan selalu menjadi penengah perselisihan dari sahabat-sahabatnya. Sayang dia terjebak ke dalam sindikat perdagangan narkoba, setelah berteman dengan acong. Seorang WNA asal Taiwan yang ternyata Bandar narkotika lintas Negara. Karena uang dan rasa cinta winda terhadap laki-laki itu, dia pun rela di peralat menjadi kurir narkoba. Juni 2004 dia tertangkap di bandara ngurah rai dengan barang bukti narkotika kelas satu berupa kokain di salah satu kopernya. 2 tahun memperjuangkan ampunan presiden tidak juga berhasil. Tak ada ampunan bagi pengedar narkoba perusak moral generasi muda.

Dalam perjalanan pulang saya hanya bisa mengeluh. Pemerintah benar-benar tidak adil. Negara ini benar-benar tidak adil!! Kenapa kurir seperti dia tak bisa di ampuni? Oke lah narkoba perusak moral generasi muda. Tapi kenapa pelaku Korupsi tidak di perlakukan seperti itu juga? Bukannya korupsi pejabat milyaran rupiah bahkan triliunan rupiah juga membuat moral bangsa ini hilang? Korupsi membuat rakyat melarat dan terjebak dalam kemiskinan panjang. Sehingga karena kemiskinan itu memunculkan keputus asaan membuat rakyat Indonesia hanya bisa menjadi pemimpi. Muncullah orang-orang seperti ahmad zaini, geng nero, geng motor dang geng-geng lainnya yang mencari kebahagiaan lewat tindakan yang salah. Kesenjangan sosial membuat semua tak punya moral lagi. Tak ada alasan pemerintah memberikan hukuman ringan bagi koruptor jika tak ingin Negara ini menjadi bangsa yang tak bermoral. Karena kemiskinan sama berbahayanya dengan narkoba!!

Ahhh… Sudah lah.. tak ada gunanya saya mengeluh, toh tak akan membantu sahabat saya lepas dari hukuman mati. Saya juga bukan AYIN alias Artalyta Suryani yang bisa menyuap jaksa dan bisa mempermainkan pengadilan untuk meloloskan sahabat saya dari tuntutan mati.

Narkoba memang merusak generasi muda. Tapi kemiskinan merusak tatanan seluruh bangsa!! Semoga sahabat saya winda bukan korban dari pemerintah yang hanya ingin menunjukkan eksistensinya terhadap penegakan hukum, karena masih terlalu banyak hukum di Indonesia yang di perjual belikan. Mungkin jika tak ada koruptor indonesia tak miskin lagi, tentu juga tak ada lagi winda-winda berikutnya yang menempuh jalur instan demi sebuah kemapanan ekonomi

Hanya celotehan newbie yang kecewa atas mafia peradilan indonesia

BALADIKA