Kita masih Tertidur Nak…

May 21, 2008 · Posted in Celoteh, Nasionalisme 

100 tahun lalu kita pernah bangkit, lalu beberapa puluh tahun kemudian kita tertidur, dan kini ngorok sampai ngelindur… begitu-kira-kira gambaran indonesia Kini, saking asiknya ngorok, kita ngiler… dan air liur kita itu menodai rasa nasionalisme bangsa ini, satu persatu mulai ingin mandiri, menjadi negara sendiri, karena tak ada lagi yang harus di banggakan dari negra kepulauan ini.

Dulu saya Bangga menjadi rakyat indonesia, dan bangga memiliki pahlawan-pahlawan hebat dari negri yang besar ini. satu-satunya negara di dunia yang memiliki sejarah perjuangan panjang terhadap kemerdekaannya. merdeka dengan perjuangan sendiri, bukan dengan pemberian seperti malaysia yang di berikan kemerdekaan oleh sang penjajahnya Inggris. atau pun Referendum seperti Timor leste.

Pelajaran sejarah yang di berikan oleh guru saya yang nasionalis, dengan semangat dan berapi-api, semakin membuat saya bangga, saya terlahir di sebuah negri yang besar, rakyatnya yang bertoleransi tinggi, dan kekayaan nya yang melimpah. itu dulu..

Ketika di ceritakan sosok Ir. Juanda. saya langsung berkhayal menjadi seorang diplomat. karena guru saya tadi selalu bilang, ” jika bukan Ir. Juanda, tentu indonesia bakal terpecah-pecah karena batas wilayah. karena lobi-lobi dalam perundingan nya lah. indonesia banyak di untungkan dengan batas wilayahnya. wajar jika akhirnya nama beliau di abadikan sebagai sebuah nama bandara di jawa timur.

Ketika guru saya menceritakan Sosok jendral besar Sudirman, saya langsung berkeinginan menjadi tentara. Ingin menempatkan nasionalisme sebagai yang utama. tanpa mengorbankan kewajiban kita yang lain tentunya.

Sudirman adalah sosok jendral yang sangat sayang terhadap pasukannya. selalu menjadi yang terakhir dalam berbagi kesenangan, dan selalu menjadi yang pertama jika dalam pasukan terjadi kesusahan. sehingga tak ada satupun kontroversi dari kisah sejarah beliau. Lawan dan kawan sangat bangga pernah mengenal beliau.

Jendral yang tak pernah mengenal kata menyerah, teguh pendiriannya berani langkahnya.

Ketika sakitpun beliau siap memimpin perang melawan penjajah, bahkan soekarno pernah meminta beliau agar tetap di kota jogjakarta setelah Ibu kota indonesia saat itu telah jatuh ke tangan belanda, Kondisinya yang sakit parah saat itu menyentuh hati soekarno agar Panglima perang nya tersebut istirahat dan tidak melanjutkan peperangan. tapi Sudirman dengan tegas menolak, bahkan beliau menegaskan kepada soekarno, jika soekarno sebagai presiden sekaligus pimpinan tertinggi militer tidak siap memimpin perang, maka Dia sendiri sebagai panglima militer akan memimpin langsung peperangan melawan belanda. dan soekarno pun menghargai pilihan sudirman. dan merestui keputusan nya melakukan perang griliya.

Kegigihan seorang jendral besar membuat saya bangga telah menjadi bagian dari bangsa ini. sebuah kebanggaan memiliki pahlawan-pahlawan yang gagah berani. tapi kini saya bertanya…. apakah politisi-politisi yang ada sekarang ikut ngomong juga jika dalam suasana kalut seperti dulu?

yang ada kini malah kumpulan orang-orang kaya di daerah, yang bukan ahlinya dalam masalah politik, dipilih menjadi caleg karena nama besar keluarga dan uang, karena dana yang besar itu juga akhirnya menjadi anggota legislatif, padahal tak sedikitpun mereka-mereka itu memiliki kemampuan berpolitik atau berorganisasi, sehingga keputusan-keputusan yang di hasilkan pun berdasarkan uang. walau tak sedikit pula yang duduk di legislatif karena memiliki rasa ingin memperjuangkan negara ini menjadi negara yang maju dan bermartabat. tapi tak bisa di pungkiri juga hal yang saya sebutkan diatas memang nyata dan ada.

Lalu apa yang bisa di banggakan dari tokoh-tokoh negara ini sekarang?Uang… uang dan uang,,, semua karena uang, Jikapun ada dia tak memiliki daya… Ibarat berada pada sebuah kelompok pencuri, hanya 2 orang yang ingin tobat, tapi karena tuntutan dan hasil yang bergelimang, Niat itu hilang dengan sendirinya… berjalan mengikuti arus yang telah di ciptakan pada kelompok itu. lalu menikmati… dan kembali pada kelompoknya, tenggelam dan tenggelam semakin dalam

Kita hanya menonton, dan menjadi korban dari permainan mereka.. sabar… sabar… Indonesia lagi di rundung duka,, hanya itu kata penguat untuk tetap mempertahankan rasa nasionalisme kita…sambil; menunggu satria piningit yang dieamalkan tiba

100 tahun kebangkitan Indonesia, ternyata kita masih tertidur dan belum merdeka. saya tetap bangga pernah memiliki pahlawan yang gagah berani, hanya saja kini kecewa, saya harus menghadapi kenyataan, perjuangan pahlawan-pahlawan besar itu harus di hargai semurah ini.

Jangan pernah pilih caleg karena keturunan keluarganya!! Pilih yang memang ahli dalam bidangnya!!! itu awal kita menentukan arah untuk Merdeka!!

Kesambet apa ya gue, jadi nasionalis gini

Artikel yang Berhubungan:

  1. Kita Bisa
  2. Mistis Masih menjual
  3. Kawan kita masuk berita detik dot com

Comments

15 Responses to “Kita masih Tertidur Nak…”

  1. persikers on May 21st, 2008 11:56 am

    Hu uh jangan pernah pilih “pejabat” dari keluarga/orang dekat…soalnya tiap lebaran pasti dikasih Uang :)) :peace:

  2. dyatmika on May 21st, 2008 3:04 pm

    Pertama… berapi-api banget boz

  3. Rezki Handoyo on May 21st, 2008 5:08 pm

    Pilih WIN-AP :lol:

  4. Wiellyam on May 21st, 2008 5:32 pm

    “Jangan pernah pilih caleg karena keturunan keluarganya!! Pilih yang memang ahli dalam bidangnya!!! itu awal kita menentukan arah untuk Merdeka!!”

    Sutubuh………..eh..Setujuuuuuuuuu……..

  5. ick on May 21st, 2008 7:29 pm

    100 tahun ketiduran nasional ada di blog saya :)

    *mode promosi : on

  6. lovesomatic on May 21st, 2008 10:24 pm

    right or wrong is my country :mrgreen:

  7. wa0nez on May 21st, 2008 11:14 pm

    MERDEKA!!!!!

  8. Didi Wahyudi on May 22nd, 2008 2:45 am

    10 tahun lalu, alm pak harto didemo supaya lengser. setelah itu… sepertinya Indonesia memang jadi lebih maju, sekaligus semakin mundur jauh ke belakang.

    dulu jarang orang Indonesia ngeblog. sekarang buaaannyyakkk sekali. apabila ada suatu peristiwa, berlomba-lomba kita menulisnya (ada beberapa yang malah mencaci maki).

    dulu saya kira demo pak harto adalah demo terakhir, tetapi ternyata sekarang hal kecil saja bisa jadi demo. harga minyak dunia yang memang naik dan pemerintah sepertinya tidak kuat lagi untuk mensubsidi kok malah didemo. kalau para tukang demo itu disuruh memilih (sekaligus menjaminnya) seorang pemimpin yang benar-benar dapat “membangunkan” bangsa ini, saya yakin mereka tidak bisa dan tidak berani.

    mudah sekali mendemo, menghujat, berprasangka buruk, bahkan orang² pinter yang suka ngeblog di kolom khusus koran² pun juga tidak memberikan solusi. kalaupun memberikan suatu pencerahan dan ternyata gagal, mereka juga tidak mau tanggung jawab, “lha saya kan bukan presiden…”

    mahasiswa menghabiskan waktu untuk demo dan mengumbar emosi, bahkan dilakukan secara berkelompok. mending ikut nasehat ortu untuk belajar dengan baik dan semakin rajin ibadah..

  9. jimmy on May 22nd, 2008 6:58 am

    apa ya yang ada di pikiran para pahlawan kita yang dulu berjuang merebut kemerdekaan dari “atas sana”? pasti sedih deh

  10. bocah on May 22nd, 2008 7:31 am

    Setuju sama om baladika. Saya sendiri kalo pas diceritain tentang jenderal sudirman seneng banget. Pengen banget jadi jenderal kayak dia :D

  11. ika on May 22nd, 2008 8:00 am

    halah jaman sekarang ini mau pilih yang bener2 capable dan idealis juga ujung2nya entar sama. mereka korup semua. gila, tukang mark up semua. saya ndak percaya lagi sama pemerintah kita. yang mereka pikirin cuman dirinya doang dan familinya. rakyat nya? ya cuman kedapatan sisanya. hopeless… koruptor di negara ini malah disegani gituh, susah dihukum berat, paling2 cuman bbrp bulan terus bebas, tapi kebanyakan bebas ding. coba kalo negara ini kayak negara cina mungkin bakalan much much better secara yang korup langsung dihukum matek. negeri kita itu aneh. korup dan kaya karna nyuri duit rakyat kok malah bangga. lembaga peradilan juga disuap. rakyatnya? termehek2 ngantri minyak dan sembako. hopeless….

  12. wisata bali on May 22nd, 2008 8:45 am

    wah!…tertidur plus kena obat bius jadi tambah pules…

  13. bozz on May 22nd, 2008 7:33 pm

    saya malah kadang suka nanya sama diri sendiri…kenapa lahir di indonesia…coba kalo lahir di singapura misalnya, apa di malaysia…mungkin kondisinya ga seperti ini…
    terus terang, jiwa nasionalisme saya sudah mulai luntur…hiks2

  14. cashman on May 23rd, 2008 3:22 pm

    100 tahun kebangkitan Indonesia = hari bangkitnya nya harga BBM.dari 4500 bangkit menjadi 6000 hebatkan :D. itu lah indonesia ku….

  15. widis on May 24th, 2008 4:24 pm

    bagun bagun bangun

Leave a Reply