100 tahun lalu kita pernah bangkit, lalu beberapa puluh tahun kemudian kita tertidur, dan kini ngorok sampai ngelindur… begitu-kira-kira gambaran indonesia Kini, saking asiknya ngorok, kita ngiler… dan air liur kita itu menodai rasa nasionalisme bangsa ini, satu persatu mulai ingin mandiri, menjadi negara sendiri, karena tak ada lagi yang harus di banggakan dari negra kepulauan ini.

Dulu saya Bangga menjadi rakyat indonesia, dan bangga memiliki pahlawan-pahlawan hebat dari negri yang besar ini. satu-satunya negara di dunia yang memiliki sejarah perjuangan panjang terhadap kemerdekaannya. merdeka dengan perjuangan sendiri, bukan dengan pemberian seperti malaysia yang di berikan kemerdekaan oleh sang penjajahnya Inggris. atau pun Referendum seperti Timor leste.

Pelajaran sejarah yang di berikan oleh guru saya yang nasionalis, dengan semangat dan berapi-api, semakin membuat saya bangga, saya terlahir di sebuah negri yang besar, rakyatnya yang bertoleransi tinggi, dan kekayaan nya yang melimpah. itu dulu..

Ketika di ceritakan sosok Ir. Juanda. saya langsung berkhayal menjadi seorang diplomat. karena guru saya tadi selalu bilang, ” jika bukan Ir. Juanda, tentu indonesia bakal terpecah-pecah karena batas wilayah. karena lobi-lobi dalam perundingan nya lah. indonesia banyak di untungkan dengan batas wilayahnya. wajar jika akhirnya nama beliau di abadikan sebagai sebuah nama bandara di jawa timur.

Ketika guru saya menceritakan Sosok jendral besar Sudirman, saya langsung berkeinginan menjadi tentara. Ingin menempatkan nasionalisme sebagai yang utama. tanpa mengorbankan kewajiban kita yang lain tentunya.

Sudirman adalah sosok jendral yang sangat sayang terhadap pasukannya. selalu menjadi yang terakhir dalam berbagi kesenangan, dan selalu menjadi yang pertama jika dalam pasukan terjadi kesusahan. sehingga tak ada satupun kontroversi dari kisah sejarah beliau. Lawan dan kawan sangat bangga pernah mengenal beliau.

Jendral yang tak pernah mengenal kata menyerah, teguh pendiriannya berani langkahnya.

Ketika sakitpun beliau siap memimpin perang melawan penjajah, bahkan soekarno pernah meminta beliau agar tetap di kota jogjakarta setelah Ibu kota indonesia saat itu telah jatuh ke tangan belanda, Kondisinya yang sakit parah saat itu menyentuh hati soekarno agar Panglima perang nya tersebut istirahat dan tidak melanjutkan peperangan. tapi Sudirman dengan tegas menolak, bahkan beliau menegaskan kepada soekarno, jika soekarno sebagai presiden sekaligus pimpinan tertinggi militer tidak siap memimpin perang, maka Dia sendiri sebagai panglima militer akan memimpin langsung peperangan melawan belanda. dan soekarno pun menghargai pilihan sudirman. dan merestui keputusan nya melakukan perang griliya.

Kegigihan seorang jendral besar membuat saya bangga telah menjadi bagian dari bangsa ini. sebuah kebanggaan memiliki pahlawan-pahlawan yang gagah berani. tapi kini saya bertanya…. apakah politisi-politisi yang ada sekarang ikut ngomong juga jika dalam suasana kalut seperti dulu? Read the rest of this entry »