Ini kisah dan potret sebagian kecil rakyat yang terpinggirkan di Indonesia. Percakapan saya dengan seorang pak marwoto di warungnya yang asri. Pak marwoto bukan lah tante teny yang menjadi pedagang lumpia sebagai profesi nya yang mulia. pak marwoto bukan juga tomblos yang patah hati karena cintanya, pak marwoto adalah seorang mantan broker sukses di kawasan villa daerah jawa barat yang tergusur Satpol PP karena menawarkan bisnis lendir sebagai bisnis terselubung di areal villa.

Kini seluruh Villa disana udah rata dengan tanah, di rusak Satpol PP yang di bantu anggota FPI.

“Sebenarnya mau marah, tapi malu mas.. udah salah masih marah. udah nyata-nyata duit haram saya masih ngotot, saya malu.. tapi gimana lagi, anak saya empat, tiga udah sekolah, satu lagi masih umur 3 tahun, kalo boleh milih ya saya cari duit halal, saya juga gak pengen jadi makelar lonte” tiap malam juga berdoa, semoga saya dapat kerja halal. jadi sekarang saya nerima dan mengikhlaskan saja lahan kerja saya di ratakan SATPOL PP. mungkin doa saya dulu pengen kerja halal di dengar tuhan, kalo gak di ratakan saya mungkin gak kerja seperti sekarang jual tipat tahu dan siomay, sedikit tapi halal”

Sambil menatap kosong pak marwoto bercerita panjang lebar tentang masa lalunya sebagai broker cewek-cewek penjaja lumpia mentah seks di kawasan villa di daerah jawa barat itu. dia gak pernah menyesal harus kehilangan pekerjaan sebagai makelar seks. hanya dia pernah kecewa dengan sikap pemerintah yang bisa membersihkan saja tanpa memberi solusi untuk nasib pak marwoto dan marwoto-marwoto lainnya.

Pak marwoto masih bersyukur kini dia masih bisa bertahan hidup dengan menjadi pedagang tupat tahu di denpasar. dia menyangsikan nasib teman-temannya dulu sesama broker PSK bisa lebih baik dari dirinya sekarang. karena sebagian besar dari teman-temannya dulu gak ada yang memiliki keahlian seperti pak marwoto yang bisa meracik makanan sejenis tupat tahu dan siomay. keahlian mereka rata-rata hanya pandai bercakap-cakap dengan calon pelanggan sambil memberi bayangan tentang dagangan cewek yang akan di tawarkan, mulus, putih, masih muda dan bisa segala macam gaya dan rasa….

Lama bercerita panjang lebar tentang masa lalunya, pak marwoto mulai curiga dengan saya yang bertanya dan setia mendengar cerita masa lalunya, padahal saya hanya pembeli tahu tipat yang dia jual kok seperti peduli banget dengan nasibnya. sambil duduk di sebelah saya yang kebetulan udah selesai makan tupat tahu yang disajikan tadi. dia bertanya “mas ini wartawan ya? kok dari tadi setia banget denger cerita dan nanya nanya tentang saya. sampe yang lainnya udah pada pulang mas masih aja disini” Saya pun Sambil malu-malu menjawab. “Maaf ya pak, jujur saja sebenarnya saya tuh bukan wartawan apalagi orang yang peduli nasib rakyat kecil seperti pak marwoto. cuman saya memang sengaja nunggu pembeli sepi, karena malu mau ngomong sebenarnya saya lupa bawa dompet. dan saya juga gak bawa barang untuk bisa di jadikan jaminan disini.” makanya saya sengaja ngulur-ngulur waktu dan banyak tanya biar lama disini…” denger jawaban saya pak marwoto ngakak… oalaah mas… mas… gitu to.. ya tak kasi gratis mas.. gak usah mbayar… santai aja sama saya” . sambil pura-pura gak ada masalah saya cuman berjanji kembali 5 menit lagi untuk bayar. tanpa meninggalkan barang sebagai jaminan.

Tapi akhirnya pak marwoto benar-benar memberikan cuma-cuma alias gratis, sepiring tupat tahu dan sebotol soft drink tadi buat saya. padahal saya sudah memaksa untuk membayar, tapi pak marwoto tetap saja menolak. karena keikhlasannya tadi sehingga artikel ini saya buat. sebagai rasa terima kasih atas cerita dan tupat tahu gratisnya. Rejeki emang gak lari kalo milik kita

Ini bukan kejadian pertama kali saya lupa membawa uang atau dompet. tapi kali ini yang paling membuat saya malu, karena kebetulan saja saya gak bawa HP dan tempatnya rame pula. sebelumnya sudah terbiasa saya meninggalkan HP untuk jaminan karena tidak membawa uang. baik itu di pom bensin, minimarket dagang sate dll. sungguh pelajaran lagi buat saya agar tidak menyepelekan dompet.? Untung dengan sedikit ketenangan dan pura-pura prihatin mendengar cerita pak marwoto, semua berakhir dengan tidak terlalu memalukan banget

Dan pelajaran yang bisa saya petik dari cerita pak marwoto ” masa lalu seseorang bukanlah alasan yang tepat untuk memvonis bersalah. mantan maling, mantan germo bisa saja kini menjadi seorang yang lebih baik dari kita yang bersorban dan berpeci” dan pelajaran lainya. “jangan lupa bawa dompet!!!”

Bobo ah… Udah jam 4 pagi… semoga mimpi basah lagi…