Saya pernah bertemu teman yang merasa hidupnya selalu saja dalam kesusahan, dia merasa susah karena melihat orang-orang di sekelilingnya terlihat hidupnya tenang, santai dan seperti sangat menikmati hidup. sedangkan dia merasa sebagai seorang yang memiliki kehidupan yang memiliki beban berat dan susah. semua di lakukan dengan perasaan berat, sedih, dan tak henti merenungi nasibnya yang tak berubah dari tahun ke tahun.

Pada suatu waktu saya dan dia ngobrol di sebuah warung makan sambil ngopi. saat kami ngobrol itu ada seorang kakek yang renta, lewat di depan kami membawa karung dan kait untuk mengait sampah. Sempat saya ingatkan teman saya yang suka mengeluh itu. masih bersyukur dia masih bisa bekerja di tempat yang bersih, dari pada kakek tadi yang terpaksa bekerja berat dan kotor karena keterpaksaan akan tuntutan hidup.

saya menasehatinya seperti orang yang berwibawa dan bijaksana banget, walau motivasi saya itu di balas dengan ketus karena dia merasa jika hidupnya tidak berubah mulai sekarang, maka dia adalah calon kuat mengantikan profesi kakek tadi sebagai pemulung setelah dia tua nanti. saya jadi ngakak dengernya. ternyata temen saya terlalu pesimis, sehingga dia merasa dirinya paling sedih di dunia, paling bernasib buruk di dunia

Saya bukannya tidak pernah mengeluh, saya sering mengeluh, tapi Read the rest of this entry »