Reunian
Kadang Sebuah cerita, baik novel, film, buku cerita humor bahkan komik, bisa memotivasi kita untuk lebih bijak, ataupun membuat kita bisa mengambil pelajaran dari setiap hal positif yang disisipkan pada cerita dalam buku maupun film tersebut, karena di setiap cerita baik film, novel atau pun buku cerita, selalu penulis menyisipkan pesan yang positif untuk di cermati, walaupun kadang ada juga hal negatif nya. namun kembali ke individu kita masing-masing dalam memilah hal mana yang patut kita ambil dan kita abaikan.
Saya sedikit pengen cerita tentang masa lalu saya yang pernah menjadi seorang murid yang di pinggirkan. mungkin bisa di ambil pesan yang positif dari cerita saya. di cerita ini saya ingin menegaskan bahwa guru yang terbaik adalah pengalaman, bukan guru yang mengajar kita di sekolah. walau ada juga guru-yang benar-benar tulus mengabdi untuk pendidikan. tapi tak sedikit yang menjadi guru karena tunutuan hidup tak punya pekerjaan lain. terpaksa menjadi guru, dan hasilnya pun lebih banyak sekolah melahirkan lulusan-lulusan yang tidak cerdas dan kualitas murid indonesia pun jauh dari standar. (tapi sekarang sudah mulai ada perubahan kayaknya
)
mungkin banyak yang tidak setuju dengan argumen saya tentang guru, itu ok-ok aja, jangan marah. silahkan keluarkan kritiknya di kolom komentar. pendapat orang kan bisa berbeda, gak seru kalo sama, bisa kayak MPR masa orde baru dong, yang cuman bisa bilang setuju……
Saya awali pengalaman saya dari bangku SD. 80 tahun silam. terlalu banyak perlakuan oknum guru yang pilih kasih terhadap beberapa murid, bukan terhadap saya saja, tapi juga terhadap murid lain. guru yang sentimen terhadap salah satu murid biasanya cenderung enggan mengakui kalo murid yang tidak di sukainya itu cerdas. sehingga nilai ulangan tidak menjadi nilai yang mutlak pada nilai raport. nilai ulangan 9 dan hasil ulangan harian 9 tapi nilai di raport bisa jadi 6. dan Ujian akhir nasional pun menjadi ajang pembuktian, mana murid yang benar-benar pintar, dan mana murid yang pintar mencuri hati guru. dan terlihat juga, mana guru yang suka pilih kasih dalam memberi nilai. sekali lagi guru juga manusia, Sangat bisa untuk pilih kasih .
Berlanjut kisah ke bangku SMP. Pernah dalam satu waktu di sekolah, waktu saya SMP 70 tahun silam. guru saya tidak mau menerima karya puisi yang saya tulis ketika ada lomba menulis puisi, guru ini ngotot kalo saya menjiplak puisi yang sudah ada, tapi karena merasa benar bahwa itu adalah hasil karya saya, sayapun ngotot sampe akhirnya menjadi perdebatan sengit antara saya dan guru. hasilnya? di nilai akhir raport, saya mendapatkan nilai bahasa indonesia dengan nilai 5. kali ini gak bisa protes, alasan nya tentu saya adalah murid yang nakal. bener-bener guru yang sentimen. sampe sekarang saya gak setuju jika semua guru dikatakan pahlawan tanpa tanda jasa. guru yang tidak mendidik banyak. karena mendidik dengan pilih kasih. walau banyak juga guru yang tulus mengabdi untuk kecerdasan anak didiknya. tapi banyak guru yang mendidik seperti mendidik bawang merah dan putih. tak heran nilai akhir di dalam ujian umum sangat berbeda jauh dengan nilai semester di sekolah. nilai per semseter adalah nilai kedekatan guru dengan murid, nilai ebtanas adalah nilai sebenarnya kecerdasan murid. kritik buat guru agar lebih mendidik menjadi pendidik sebelum menyandang gelar pahlawan tanpa jasa.
Kini berlanjut ke pengalaman SMU nih, tepatnya 67 tahun silam. dimana diskriminasi sangat saya rasakan juga. sebagai salah satu bagian dari anak didik di sekolah yang bukan unggulan. saya pernah di sidang guru karena malas sekolah. permasalahannya sebenarnya bukan saya saja yang menjadi murid malas satu-satunya, ada banyak murid yang sering absen sekolah yang seharusnya mendapatkan teguran, tapi karena murid yang malas itu orang yang “cerdas” dan aktif dalam kegiatan ekstra kulikuler sekolah dan dekat dengan beberapa guru, para guru pun tutup mata dengan kemalasan teman saya itu. dengan alasan bagian dari kegiatan sekolah. sebagai bentuk protes saya bersama 3 orang temen saya malas sekolah melihat perlakuan berbeda guru kami itu . buntutnya orang tua saya di kirimin surat untuk datang ke sekolah. tapi sebelum orang tua saya ke sekolah, saya sudah jelaskan ke ortu kalo ini hanya bentuk protes saya dan beberapa teman atas perlakuan guru yang meng anak emaskan salah satu siswanya. jarang sekolah tapi nilainya bagus mulu. dodol…
dodol..![]()
Memang teguran dari guru kepada ortu (saya dan 2 orang teman waktu itu) gak begitu berpengaruh, karena ortu saya udah saya berikan pengertian. tapi disana lah awal semakin bencinya guru itu terhadap kita bertiga. mulai dari nilai yang di anjlokin banget , sampe menjadi bulan-bulanan pertanyaan sulit di kelas yang di ajukan dengan nada cetus.
karena sudah menjadi musuh besar beberapa guru, walau ada yang masih pro dengan saya. saya pun semakin berani memprotes guru yang kebetulan melenceng. pas ujian akhir nasional saya memprovokasi beberapa teman sekolah untuk mempertanyakan tentang nominal biaya ebtanas yang jauh lebih besar di banding sekolah lain, apalagi dari jumlah yang di tetapkan dinas pendidikan dan kebudayaan.
Akibat protes saya dan kawan-kawan memang membuahkan hasil. nominalnya akhirnya sedikit berkurang. Tapi protes yang berhasil itu harus di jual mahal. saya dan 7 orang teman yang rajin memprotes, saat ujian berlangsung mendapat perlakuan khusus, Kami (saya dan 7 orang lain nya) mengerjakan ujian di ruang BP dengan alasan mengoptimalkan pengawasan. saya nurut aja, toh gak ada niat nyontek untuk ebtanas. hasil ebtanas pun terbukti, anak emas nya guru saya, nilai rata-ratanya jauh di bawah murid yang selama ini di anggap nakal dan bodoh..
Jika seperti ini apa yang ada dalam pikiran guru? masih mempertahankan kah sifatnya yang suka pilih kasih? atau berubah menjadi guru yang “guru”, dimana masih banyak guru yang mendidik seperti oemar bakri yang turut menjadi korban ulah guru yang tidak mendidik. Semoga kualitas guru semakin menjadi lebih baik untuk menjadikan anak-anak indonesia yang cerdas dan bisa bersaing di dunia internasional. sehingga guru pun layak mendapat julukan pahlawan tanpa tanda jasa. mendidik bukan hanya penyampaian, pendekatan personal yang baik malah bisa menjadikan anak didik menjadi lebih terdidik.
Tulisan ini saya buat karena siang tadi tanpa sengaja ketemu guru yang menjadi musuh besar saya dulu. melihat saya senyum-senyum gak karuan. mungkin malu, kalo sekarang muridnya yang di benci itu masih hidup dan semakin keren…
dan saya ingin ngucapin terima kasih tertulis buat Bpk safrudin guru SD saya dulu yang sangat saya kagumi ketulusan nya dan cara pendekatannya mengajar, walau sebagai guru honorer tapi kualitas mengajarnya lebih berkelas dari pada guru yang sudah menjadi guru tetap. ![]()
Sekalian pingpong untuk perjuangan temen-temen yang ikut kontes.
Seocontest2008 buat dewaji yang sudah mendapat posisi yang semakin bagus, seocontest2008 buat brokencode yang mulai merangkak naik. Semoga sukses menjadi pahlawan tanpa tanda jasa mengharumkan indonesia di contest SEO dunia![]()
No related posts.
Comments
11 Responses to “Reunian”
Leave a Reply




gak usah di baca kepanjangan
pertamaxxx. dan satu-satunya
@atas …. SETUJU *kabur*
Numpang reunian ah
eh bentar.. kok SD 80 tahun silam, SMP 70 tahun silam, SMA 67 tahun silam?? lah tua banget donk???
trus kok jarak SD sama SMP 10 tahun?? argh.. binun..
memang benar banyak guru yg seperti itu
tapi kan tidak semua guru
*nyanyi dangdut*
@ridu
gw hanya bisa ngakak hahahahahahahahahah
wah ternyata baladika itu tampangnya aja yang masih muda padahal udah bau tanah….:evil:
*kabur…*
SD-nya 10 taon ya mas…?
eh, kalo 80 taon lalu kan namanya masih SR, bukan SD…:D
weh…panjang banget…ntar aja deh bacanya..
saya mau reunian ah sama mas baladika di posting ini
terimakasih pak baladika, atas backlinknya.
Sama… mau reunian di sini juga…. Btw makanan & minumannya mana??????