Sebelumnya saya tegaskan lagi. Ini indonesia Bung!!!

Belasan Tahun yang lalu petani kita boleh berbangga. selain di nyatakan sebagai negara penghasil beras terbesar di dunia. Indonesia di sebutkan memiliki ketahanan pangan yang sangat kuat di dunia. dan pengakuan itu tak tanggung tanggung lagi. badan resmi pangan dunia memberikan predikat bergengsi itu. bukan karena kolusi, atau nepotisme. tapi kenyataan indonesia saat itu memang sangat di perhitungkan dalam urusan pertanian.

Namun kini semua tinggal cerita. Beras bagi indonesia semakin langka. dan nasi aking kini menjadi primadona. bayangkan saja 1 kilo nasi aking harganya mecapai Rp.3000. Nasi basi masih bernilai tinggi di indonesia. inilah indonesia kini bung!!. sebuah kondisi yang sangat Ironis, dimana negri sebagai bangsa agraris harus menjadi bangsa tragis yang kekurangan pangan.

Jaman kemerdekaan dulu, Orang arab pernah datang ke indonesia. ketika menginjakkan kaki di indonesia, si Arab ini terkaget-kaget. bagaimana tidak. tanah indonesia yang subur, udara yang segar, pohon yang rimbun. sungai yang jernih. membuat nya terheran-heran dengan negri ini. Inikah syurga itu?? negri yang cantik, seperti surga katanya. sungguh berlawanan dengan negrinya yang tandus dan kering.

Si orang arab ini tambah kaget lagi melihat petani ketela pohon, yang hanya menancapkan batangan kayu saja bisa tumbuh subur dan rindang. ungkapan inilah mungkin menginspirasikan Group koes Plus menciptakan lagu dengan penggalan lirik ” tongkat kayu dan batu jadi tanaman” emang bener ya kalo di pikir-pikir. kayu yang hanya di tancapin aja bisa tumbuh subur menghasilkan umbi-umbian yang enak di santap. sekali lagi ini Indonesia Bung!! bangsa yang subur.

Namun jika si arab itu balik lagi ke indonesia pada zaman ini. Mungkin dia akan kaget lagi. bukan karena keindahan indonesia. tapi kaget dengan kondisi indonesia berbalik hampir 180 drajat. banjir dimana-mana, tanaman tak lagi subur, udara berpolusi, dan sungai tak lagi bening tapi kuning .

Mengapa Indonesia begitu terpuruk dengan pangan? salah siapakah ini? apakah salah petani yang tak lagi pintar seperti petani dulu? ataukah salah alam? atau mungkin salah pemerintah yang meng impor beras secara besar-besaran dan menghancurkan harga beras petani indonesia sendiri? mmm… saya sepertinya lebih setuju dengan pilihan terakhir ini.

Ok lah saat itu pemerintah terlihat seperti peduli dengan pangan rakyatnya. Rakyat indonesia dimanjakan dengan harga beras impor yang murah dan berkualitas. jauh lebih murah dari beras hasil petani indonesia yang saat itu melonjak mahal.

Tapi pemerintah sepertinya justru terjebak dengan politik ekonomi seperti ini. pemerintah tak pernah memikirkan dampak jangka panjang yang sangat merugikan indonesia sendiri. Saat indonesia di banjiri dengan beras impor, harga beras memang bisa di tekan. stok pangan indonesia pun bisa di jaga dan aman. Namun tanpa disadari Read the rest of this entry »