Yang tak kasat Mata

November 9, 2007 · Posted in Renungan 

Beberapa tahun yang lalu saya pernah bertemu dengan seseorang yang sangat bijak. Sehingga saya selalu merasa tenang jika sedang mendengar beliau bertutur (sekarang sudah almarhum, semoga damai disisi NYA). Beliau selalu menasehati saya agar melihat gunung sebagai sebuah cermin dalam melihat kemewahan maupun keberhasilan orang lain, sehingga tidak timbul rasa iri dan dengki atas keberhasilan, maupun kemewahannya.

“Gunung itu kalau dipandang indah, hijau, asri dan teduh . tapi jika kita mendekati dan menelusurinya, barulah kita sadar. tidak semua yang kita bayangkan tentang keindahan pada gunung itu sempurna. Ternyata banyak jurang terjal, dan binatang buas disana”

Satu Gambaran yang sangat bijak bagi saya, semakin membuat saya sadar bahwa dimanapun posisi kita, siapapun kita akan memilki suatu masalah yang sesuai dengan kemampuan kita. Dan apa yang kita lihat itu kadang menipu.

kadang kita iba melihat tukang es keliling yang berjalan jauh dengan mendayuh sepeda untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. tapi ternyata orang yang kita kasihani itu adalah orang yang merasa paling bahagia di dunia. Memiliki istri dirumah yang setia menunggu suami nya mencari nafkah. memiliki anak-anak yang rajin dan patuh terhadap orang tua, sehingga baginya surga dan hiburan yang paling berharga adalah rumah, tempat dimana melepas semua keletihan dan kepenatan setelah seharian berkerja.

Lalu disisi lain kita kadang berhayal dan mendambakan menjadi seperti tetangga kita yang sukses dengan usahanya, memiliki mobil mewah, Istri yang cantik, anak-anak yang dimanjakan, dan perusahaan yang besar. Namun siapa sangka Rumah baginya adalah neraka. Istrinya yang cantik ternyata tukang selingkuh, Anaknya yang manis ternyata pemakai narkoba. pertengkaran selalu menjadi pemandangan rutin di balik rumah megah dan indah itu, Sehingga surga bagi dia adalah discotik atau pun hiburan malam lainnya.
yang kita lihat kadang sangat menipu. Siapa sangka di balik senyum yang manis ternyata sedang memiliki dendam yang mendalam terhadap kita. siapa yang sangka seorang pendiam seperti cho seung-hui yang doyan bermaen game ternyata adalah seorang pembunuh berdarah dingin, yang membrondong teman teman kuliahnya dengan senapan api yang membabi buta.

Masih ingat Sumanto si manusia kanibal itu. menurut penuturan teman-temannya di tempat dia bekerja dulu, sumanto adalah orang yang sangat biasa, dan tidak ada keanehan pada kehidupannya sehari-hari. ramah dan suka senyum, diapun sering menawarkan lauk jika waktu makan siang tiba. tapi siapa yang sangka ternyata lauk yang ditawarkan adalah daging manusia.

Panorama keindahan gunung yang terlihat dari kejauhan bisa kita ambil sebagai falsafah hidup. dimana keindahan yang kasat mata kadang sangat menipu.

Siapa sangka wanita maupun laki-laki yang kita percaya ternyata menghianati kita? Siapa sangka istri kita ternyata seorang peselingkuh sejati, Siapa sangka suami kita ternyata seorang koruptor, belajarlah memandang gunung. telusuri dia sebelum kamu memvonis dan menyanjungnya dengan berlebihan. Karena penyesalan selalu menunggu di belakang

Pernah dalam sebuah pameran lukisan penonton diajak untuk mengartikan arti dari sebuah lukisan. Dimana di lukisan itu tergambar sebuah pohon kering berada dalam suasana yang mencekam, Hujan yang lebat, mendung hitam, kilat menyambar. Diantara pepohonan itu ternyata terdapat sepasang burung merpati yang sedang hinggap, terlihat damai, dan tak sedikitpun merasa terganggu dengan kilat yang menyambar, gemuruh, maupun hujan angin yang menggoyang ranting pohon. Silahkan artikan sendiri makna dari lukisan itu.

Sok bijak dulu ah..

Artikel yang Berhubungan:

  1. Buka Mata Buka Celana
  2. Puisi Narsis
  3. Negri Yang manja

Comments

9 Responses to “Yang tak kasat Mata”

  1. neniq on November 9th, 2007 1:28 am

    mungkin aja tuh burung udah ngerasa nyaman tinggal di pohon yg kering itu, yah home sweet home lah..
    meskipun ada pohon yg lebih rindang tp tak seindah tinggal di pohon yang udah kering tuh.

  2. masowen on November 9th, 2007 2:45 am

    segala sesuatu harus ditilik dari berbagai dimensi

  3. emanrais on November 9th, 2007 4:08 am

    Kayak burung bude tuh…

  4. Bocah on November 9th, 2007 7:54 am

    hiks2 bener-bener kisah inspirasi om

  5. pandi merdeka on November 9th, 2007 9:59 am

    heheheh sekalian promosi blog ku dah pindah om… makasih buat ceritanya walaupun kita nggak ketemu ma orang bijaknya kita jadi tau hikmahnya xixixii terus semangat ya om.. oh iya turut berduka juga om. tetep sabar dan tabah yaa

  6. balibuddy on November 9th, 2007 8:02 pm

    beh! first class bos, salut sayah buat pakar perlendiran.

  7. Daffa on November 10th, 2007 12:38 am

    oOo beliau yang dikau maksud di SMS…. innalillahi wa innalillahi raji’un.

  8. broky on November 12th, 2007 10:15 pm

    wah…
    pakar perlendiran yang sangat bijak….

    :ngacir:

  9. [...] Yang tak kasat Mata [...]

Leave a Reply